Senin, 22 Juni 2026

Dongeng Para Penyair

Sore ini langit menyapaku dengan senyum yang merekah, menghadirkan lembayung indah seolah mengusap dahiku dengan lembut. Daun yang berguguran menata lukisan di atas tanah, disambut riuhnya suara ombak yang bersautan. Secangkir kopi telah habis kuteguk, pemandangan yang alam suguhkan ternyata tak berhasil membuatku terbujuk karena Sejujurnya aku sedang merajuk. Aku merasa tertipu dengan banyaknya buku yang rampung ku baca, para penyair terlalu mendongengkan kisah cinta dengan bahasa yang kian tak masuk logika. Bagaimana tidak? Dari sekian banyak luka tak ada satupun yang menang di atas nama cinta. Sedang menurutku jatuh cinta adalah fana. Seorang pria dan wanita, laki-laki dan perempuan, tuan dan puan, atau apalah sebutannya. Katanya cinta adalah perasaan mengasihi yang tak ada ujungnya, nyatanya cinta bisa pudar seiring usia merenggut paksa eloknya rupa. Katanya cinta adalah pengorbanan yang paling menyenangkan, nyatanya perhitungan muncul setelah raga tak lagi kuat memberi balasan. Katanya cinta adalah ketulusan yang paling dalam, nyatanya keangkuhan muncul setelah jiwa menjadi miliknya. Dalam buku yang ku baca ada penyair berkata “Cinta itu murni, cinta adalah keindahan” namun pada kenyataannya aku melihat bahwa kemurnian dan keindahan itu di dapat melalui proses yang tidak mudah. Pengkhianatan, kekerasan dan kebohongan seolah ikut andil dalam mewujudkannya. Lalu apa yang murni dan indah dari cinta? Hasrat sesaat ketika dua mata saling menyapa? Dari sekian banyaknya definisi cinta dari buku yang ku baca, aku lebih bisa menerima bahwa cinta bukanlah bahan utama terciptanya bahagia. Sebab kenyataannya cinta selalu berdampingan dengan luka, Entah mengapa aku sampai pada kesimpulan dimana hubungan antar manusia itu tidak ada yang murni, setiap kebaikan yang diterima selalu ada kebaikan lain yang harus dibalas, semacam simbiosis mutualis yang tiada akhir. Atau mungkin aku yang terlalu naif, merasa tidak pernah menerima ketulusan seperti yang para penyair dongengkan.